Artikel

GALIAN DI TENGAH KA’BAH DAN NABI IBRAHIM MENYERU HAJI KE KA’BAH

Sejarawan al-Mas’udi menggambarkan Ka’bah yang telah selesai  di bangun oleh Nabi Ibrahim as sebagai berikut, “Setealah Baitullah al-Haram sempurna di bangun, memiliki panjang 30 hasta (1 hasta=45 cm, tinggi 7 hasta dan lebarnya 32 hasta, dengan sebuah pintu dan belum di beri atap. Lalu, Nabi Ibrahim meletakkan penopang dan meletakkan maqam di Baitullah. Ini seperti yang di sebutkan dalam firman Allah, ‘Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a), “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar  lagi Maha Mengetahui.’ Setelah itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim agar menyeru manusia melaksanakan ibadah haji.

Penulis kitab “Tarikh al- Ka’bah al- Mu”azhzhamah”  menggambarkan lebih rinci mengenai kondisi Baitullah setelah selesai di bangun Nabi Ibrahim as. Ia menulis, “Nabi Ibrahim menjadikan tinggi Ka’bah ke sisi kiri 9 hasta. Panjang dari utara ke selatan melalui sisi timur adalah 32 hasta. Sedangkan, panjang dari utara ke selatan melalui sisi barat adalah 31 hasta. Panjang dari timur ke barat dari sisi utara atau melalui Hijir Ismail adalah 22 hasta. Selain itu, Nabi Ibrahim dan Ismail as juga membuat dua pintu hingga ke lantai. Pintu yang pertama di sebelah timur, di dekat Hajar Aswad dan yang kedua di sebelah barat, di dekat rukun Yamani sejajar dengan pintu pertama. Dan, Nabi Ibrahim menggali lubang di dalamnya untuk penyimpanan barang,. Ia tidak menutup lubang itu dengan atap dan tanpa daun pintu.”

Dalam sebuah buku di sebutkan bahwa Nabi Ibrahim as menggali lubang tersebut untuk gudang penyimpanan. Nabi Ibrahim sangat antusias menyelesaikan bangunan Ka’bah dan berharap Ka’bah  bukan sekedar tempat beribadah klepada Allah, tetapi juga tempat untuk mempersembahkan nazar. Maka ia, menggali lubang di tengah Ka’bah sebagai tempat menyimpan semua harta nazar.

Al-Qur’an pun mengabadikan bangunan Ka’bah itu dalam surah Ali ‘Imran’, “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia  ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang di berkahi  dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas,
(di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa  mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran:96-97)

Setelah selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim as agar menyeru manusia melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Hal itu sebagaimana yang di sebutkan dalam Al-Qur’an, ”Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj:27)

Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwasanya setelah mendapat perintah itu Nabi Ibrahim berkata,

“Wahai Tuhanku, suaraku tidak mampu memanggil hingga jauh,”

“Serulah! Aku yang akan menyampaikan,”jawab Allah.

Lalu, Nabi Ibrahim as menyeru, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atas kamu haji ke Baitullah.” Dan ternyata, seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit mendengar seruan Nabi Ibrahim as tersebut.

Ath- Thabari juga meriwayatkan bahwa Abdullah bin Zubair pernah bertanya pada Ubaid bin ‘Umair al-Laitsi terkai seruan Nabi Ibrahim as untuk menunaikan ibadah haji tersebut. Ubaid bin ‘Umair al-Laitsi berkata, “Riwayat yang sampai kepadaku mengatakan bahwa setelah Nabi Ibrahim dan Ismail meninggikan bangunan Ka’bah hingga selesai seagaimana yang di perintahkan Allah turunlah perintah untuk melaksanakan ibadah haji. Nabi Ibrahim kemudian menghadap ke Yaman dan menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah dan berhaji ke rumah-Nya. Kemudian, terdengar jawaban, ‘Labbaik allahumma labbaik.” Lalu, Nabi Ibrahim as menghadap ke barat dan melakukan hal yang sama dan terdengar pula jawaban yang sama, ‘Labbaik allahumma labbaik.”

Imam ath-Thabari melengkapi kisahnya dengan riwayat lain, yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Jibril menemui Nabi Ibrahim pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), lalu pergi bersamanya ke Mina. Di sana , mereka melaksanakan shalt Dzuhur, Asar, Maghrib, Isya di akhir malam dan Shubuh. Kemudian, Jibril membawa Nabi Ibrahim ke Arafah dan menurunkannya di bawah pohon Arak, tempat yang sering di gunakan orang-orang beristirahat. Di sana, Jibril menjamak shalat Dzuhur dan Asar, kemudian Wukuf hingga tiba waktu Maghrib yang paling awal. Setelah itu, mereka meninggalakan Arafah menuju Masy’aril haram dan menjamak shalat Maghrib dan Isya. Selanjutnya, mereka diam sampai tiba waktu fajar yang paling awal dan segera shalat fajar. Kemudian, mereka diam lagi hingga waktu fajar yang paling akhir. Lalu, mereka bertolak ke Mina dan melempar Jumrah. Selanjutnya, menyembelih hewan kurban dan terakhir melakukan Tawaf Ifadhah di Baitullah.

Setelah selesai membangu Ka’bah, Nabi Ibrahim as kembali ke Syam dan meninggalakan putranya, Nabi Ismail as di Mekah. Ketika itu, Nabi ismail sudah dewasa dan mampu menggantikan tugas ayahnya untuk mengemban amanah dan dakwah pada agama yang lurus. Maka, lambat laun Mekah berkembang menjadi kota meski hanya berdiri di atas lembah tandus yang sangat sempit, tidak lebih dari 700 langkah, bahkan ada yang lebarnya tidak lebih dari 100 langkah dan di kelilingi gunung cadas yang tidak ditumbuhi pepohonan, dengan tinggi 200 sampai dengan 500 kaki.

SUMBER:SEJARAH KA’BAH/Prof.Dr. Ali Husni al-kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *