Artikel

KA’BAH DI BAWAH KEKUASAAN QURAISY

SUKU KHUZA’AH menguasai Ka’bah selama kurang lebih lima abad, hingga kemudian muncul suku Quraisy yang berhasil menyatukan barisan dan kekuatan untuk menggeser kekuasaan Khuza’ah. Suku Quraisy adalah keturunan Nadhr bin Kinanah. Mereka disebut Quraisy setelah Qushay bin KIlab mengumpulkan mereka di Baitullah. Tepatnya, setelah suku Khuza’ah tersingkir.

Para sejarawan sepakat bahwa kakek Nabi Muhammad saw yang keempat yakni Qushay bin Kilab adalah keturunan Kinanah dan termasuk suku Quraisy. Nasab suku ini sampai kepada ‘Adnan hingga Nabi Ismail as. Itulah yang dimaksud hadits Nabi, “Allah memilih Kinanah dan keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim, aku adalah yang terbaik dari yang terbaik.”

Qushay adalah seorang laki-laki pekerja keras dan tegas. Ia menikah dengan putri pemimpin Khuza’ah (Khalil bin Habasyiah) yang bernama Huba. Qushay adalah sosok ambisius yang terus berusaha menjadi orang nomor satu di Mekah. Imam Ath-Thabari memaparkan, “Qushay adalah sosok yang selalu menganggap dirinya lebih pantas dari orang Khuza’ah dan Bani Bakr untuk mengurus Ka’bah dan memimpin Mekah. Menurutnya, suku quraisy adalah penerus Nabi Ismail dan Ibrahim as. Hal itu, kemudian mendorong dirinya berdiskusi dengan semua lelaki quraisy dan bani kinanah untuk mengeluarkan Khuza’ah dan Bani Bakr dari Mekah. Mereka pun menyambut ajakan Qushay dan bersumpah setia di depannya. Setelah itu, Qushay mengirim sepucuk surat pada saudaranya yang seibu bernama Razah bin Rabi’ah bin Haram. Surat itu berisi ajakan agar Razah mau membantu Qushay dan berjuang bersamanya.

Razah menerima ajakan tersebut. Lalu, ia beserta kaumnya datang ke Mekah. Maka, berkecamuklah perang besar antara kedua kubu. Hingga akhirnya, mereka sepakat menghentikan perang dan mengangkat seorang hakim dari bangsa Arab. Sang hakim pun memutuskan bahwa qushay lebih berhak mengurus Ka’bah dan memimpin Mekah. Qushay kemudian mengangkat diri sebagai raja Quraisy dan diterima penduduk Mekah.

Qushay adalah putra pertama Ka’b bin Luay, seorang kepala suku yang ditaati oleh kaumnya. Dialah yang memegang kunci ka’bah, menyediakan makanan dan minuman untuk jamaah haji, merawat Darun Nadwah dan memegang panji perang. Ka’b bin Luay terhitung yang tokoh yang dipandang mulia di Mekah. Dialah yang kemudian membagi tanah Mekah menjadi 4 bagian dan meminta setiap suku Quraisy menempati bagian yang telah ditetapkan. Ini terjadi setelah kota Mekah terbentuk.

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa dahulu di Mekah tidak ada rumah atau bangunan selain Ka’bah, hingga tiba masa kepemimpinan Qushay. Sebab, Khuza’ah dan Jurhum tidak menginginkan adanya bangunan apapun di sekitar baitullah, sehingga mereka  tinggal di luar Tanah haram. Bahkan, suku Khuza’ah dan Jurhum melarang orang menginap di Tanah haram pada malam hari.

Ketika Qushay menguasai Ka’bah, ia mengumpulkan suku Quraisy dan meminta kaumnya membangun rumah di sekitar Mekah. Bangunan pertama yang mereka dirikan adalah Darun Nadwah yang berfungsi sebagai tempat musyawarah suku Quraisy. Inilah yang kemudian mengantarkan suku Quraisy berhasil mengurus Ka’bah dan lebih baik dari khuza’ah.

Di masa kekuasaan quraisy, Mekah adalah kota dengan pemerintahan yang tertib dan damai. Kesuksesan suku Quraisy dalam membina pemerintahan yang rapi itu, sebenarnya berkat komitmen dan kepengurusannya yang baik pada Ka’bah. Dan, tidak ada suku yang memiliki kekuasaan mutlak di tanah Arab ketika itu selain suku Quraisy. Hal itu karena, sebelum Quraisy berkuasa, setiap suku memiliki pemimpin yang disegani dan ditaati oleh semua anggotanya. Meskipun begitu, pemimpin suku tersebut tidak memiliki hak dan kewajiban yang jelas.

Ketika suku Quraisy berkuasa, mereka menetapkan bahwa tanah di sekitar Baitullah adalah Tanah Haram yang harus dihormati dan disucikan. Saking sucinya, haram diadakan peperangan disana. Peraturan ini adalah wujud komitmen dan tanggung jawab Quraisy dalam menjaga Baitullah. Sehingga mereka juga aman dari kejahatan suku-suku di sekitar Mekah. Kehormatan suku Quraisy pun meningkat karena Mekah dan Ka’bah.

Ketika Ka’bah semakin popular dan menjadi pusat kota Mekah, pamor suku Quraisy pun meningkat di mata suku-suku Arab. Di sisi lain, quraisy terus berupaya membangun hubungan baik dengan suku-suku Arab yang setiap tahun mengutus kaumnya untuk menunaikan ibadah haji atau berdagang.

SUMBER:SEJARAH KA’BAH/Prof.Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *