Artikel

SEJARAH KEBERADAAN BERHALA DI SEKITAR KA’BAH PADA MASA QURAISY

Di masa kekuasaan Quraisy, ketika Ka’bah menjaditujuan ibadah suku-suku Arab ia menjadi sumber rezeki bagi penduduk Mekah. Saat itu, kaum Quraisy meletakkan seluruh berhala yang menjadi sesembahan suku Arab di sekililing Ka’bah. Kira-kira , ada 360 berhala, mulai dari yang paling besar hingga yang paling kecil. Bentuknya pun bermacam-macam seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Ketika itu, kaum Quraisy sadar betul bahwa Ka’bah adalah sumber rezeki mereka. Mereka juga tahu bahwa jika bukan karena pesona Ka’bah, mereka tidak akan bisa bertahan hidup di lembah yang tandus sperti itu. Sehingga mereka rela memfasilitasi para jamaah yang datang ke Mekah. Khususnya dalam penyediaan air dan makanan. Mereka juga membuat aturan bahwa daerah-daerah di sekitar Mekah adalah Tanah Haram yang dilarang diadakan peperangan. Di sisi lain, mereka juga menjamin keamanan para tamu, baik yang datang untuk beribadah atau sekadar berdagang.

Berkat adanya berhala-berhala tersebut, pengurus Ka’bah berhasil meraup keuntungan yang sangat besar. Mereka menjual lembaran-lembaran syair paganisme yang ketika itu tersebar di Mesir, Yunani, India, dan Babak. Setiap orang yang datang dan ingin bersumpah di depan berhala-berhala tersebut atau meminta petunjuk, harus membayar tarif tertentu pada mereka. Selain itu, para pengunjung juga akan membeli berbagai keperluan pda mereka, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan biaya tinggal. Inilah yang kemudian menjadikan Mekah sebagai pusat transaksi perdagangan.

Beberapa suku yang datang ke Ka’bah mengagungkan dan hanya menyembah berhala-berhala tertentu, seperti Wad, Suwa’, Yaghuts, Yauq, dan Nasr. Kelma berhala inilah yang dahulu juga di sembah kaum Nabi Nuh as. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, Nabi Nuh as berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anajnya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.’ Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meningggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.’ Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang, dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (QS. Nuh:21-24).

Ada juga beberapa berhala yang sangat terkenal dan diagungkan hamper semua suku yakni Lata, Uzza, dan Manat. Al-Qur’an mengisahkan tentang berhala-berhala tersebut, “maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) al-Lata dan al-Uzza, dan Manat, yang ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (QS. An-Najm:19-21).

Lata adalah berhala berbentuk batu segi empat yang ada di Thaif. Di atasnya ada sebuah bangunan dan tanah sekelilingnya dianggap juga sebagai Tanah Haram. Banyak suku dari bangsa Arab berziarah dan mempersembahkan hewan kurban di sana. Berhala ini di bawah tanggung jawab Bani Mughits dari suku Tsaqif. Orang-orang Tsaqif berusaha menjadikan Lata sebagai tandingan Ka’bah yang saat itu di bawah kuasa suku Quraisy di Mekah.

Seadngakan, Uzza adalah pohon besar di lembah Nakhlah di sebelah timur Mekah. Uzza termasuk berhala terbesarnya kaum Quraisy. Mereka berziarah dan mempersembahkan hewan kurban padanya. Mereka juga menetapkan Tanah Haram di sekitar berhala itu, seperti di Ka’bah. Hingga saking besarnya penghormatan mereka pada berhala itu, banyak di antara mereka menamai anak-anaknya dengan abdul Uzza (hambanya Uzza).

Adapun Mnat adalah batu hitam yang dad di dalam tempat peribadatan di Qadid terletak di jalan antara Mekah dan Yastrib. Berhala ini dianggap sebagai tuhan qadha’ (penentu), yang bertugas menentukan kematian seseorang. Berhala lain milik kaum Quraisy adalah Hubal. Ia merupakan berhala terbesar berbentuk manusia dan terbuat dari batu aqiq. Suatu saat pernah lengan berhala ini patah, tapi kemudian di ganti oleh kaum Quraisy dengan emas. Berhala yang lain adalah Asaf dan Nailah. Kaum Quraisy meletakkan masing-masing berhala ini di sudut ka’bah. Setiap orang yang akan tawaf, harus memulai tawafnya dari Asaf, menciumnya dan menyelesaikan kembali tawafnya di sana.

Al-Mas’udi berkata tentang asaf dan Nailah., “Dahulu, banyak anggota suku Jurhum yang sering melakukan perbuatan keji di tanah haram. Di antara mereka adalah orang yang bernama Asaf. Ia membuat mesum di Tanah Haram dengan seorang wanita yang bernama Nailah. Maka, Allah mengutuk mereka dan menjadikan mereka batu. Setelah itu, keduanya justru dijadikan sesembahan diri untuk mendekatkan diri pada aAllah. Ada juga yang berpendapat bahwa kedua berhala hanyalah batu yang dipahat yang kemudian dinamai dengan nama mereka untuk mengenang Asaf dan Nailah.

Kaum Quraisy juga meletakkan berhala di bukit Shafa bernama Mujawir ar-Rih dan di Marwa bernama Muthi’mu ath-Thair. Jika suku-suku Arab yang datang melaksanakan haji ke Mekah bertanya pada suku Quraisy tentang kedua berhala tersebut, mereka akan menjawab, “Kami menyembahnya untuk mendekatkan diri kepada Alllah.”

Dahulu, banyak berhala yang tersebar di sekitar Mekah dan di berbagai kota lain di Jazirah Arab. Ada yang berbentuk rumah, pohon yang diukir dan lain sebagainya. Tapi, kemudian berhala-berhala itu di kumpulkan di sekitar Ka’bah. Hingga, di sekitar Ka’bah ada lebih dari 360 berhala. Banyaknya berhala di sekitar Ka’bah itu, sebenarnya adalah ide suku Quraisy. Ketika itu, mereka berpikir bagaimana caranya mendatangkan suku-suku Arab di sekitar Mekah agar mau datang ke Ka’bah dan berhaji, mereka berpikir bahwa kedatangan suku-suku Arab adalah lahan bisnis yang bagus. Maka, terbetiklah ide untuk mengambil berhala-berhala setiap suku di tanah Arab untuk kemudian dibawa dan diletakkan di sekeliling Ka’bah. Dengan begitu, semua suku Arab akan datang ke Mekah dan mengunjungi Tanah Haram demi sesembahan mereka.

Hal itu membuat ibadah suku-suku Arab pada sesembahannya (berhala) menjadi terbatas. Sehingga, banyak dari mereka merasa belum cukup menyembah dan mempersembahkan kurban pada berhala-berhala mereka di Ka’bah. Akhirnya, mereka membuat patung imitasi yang mereka letakkan di rumah masing-masing untuk kemudian disembah dan tawaf di sekelilingnya, di rumah mereka. Ketika itu, mereka berkeyakinan bahwa berhala-berhala itu adalah perantara mereka dengan Tuhan.

SUMBER:SEJARAH KA’BAH/Prof.Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *