Artikel

AWALNYA, BERHALA HANYALAH PERANTARA TUHAN

Tidak semua bangsa Arab menyembah berhala,. Sebagian bangsa Arab ada yang sadar bahwa semua berhala tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat. Tetapi mereka tidak mampu melawan arus dan menunjukkan jati dirinya. Apalagi, berhala-berhala itu sudah ada di sekitar Ka’bah selama beberapa abad, sehingga menyembah mereka adalah tradisi yang sudah turun-temurun. Seperti orang Arab Badui. Mereka menyembah berhala bukan karena dorongan spiritual, bahkan mereka sebenarnya antipasti terhadap berhala. Tapi, mereka terpaksa melakukan ritual-ritual itu, hanya demi menghormati tradisi yang sudah turun-temurun.

Pada awalnya, suku-suku Arab itu melakukan ritual bukan untuk menyembah berhalanya. Mereka menganggap berhala-berhala itu hanyalah perantara, antara mereka dengan Allah. Mereka berkeyakinan bahwa doa yang di tujukan langsung kepada Allah tidak akan dikabulkan, kecuali jika dilakukan melalui perantara berupa berhala dengan beberapa jenis ritual khusu. Di sini, sejarawan menilai bahwa ideology mereka tentang syafa’at (penolong) merupakan bagian terpenting dari akidah dan ibadah mereka. Keyakinan inilah yang kemudian terus berkembang, sampai akhirnya di generasi Jahiliah banyak suku yang akhirnya berubah keyakinan. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itulah yang mampu mendatangkan mudarat dan manfaat.

Sejarawan Arab modern, Muhammad Daruzah, berpendapat bahwa sebagian bangsa Arab sebelum Islam mengakui adanya Tuhan, sebagai pencipta langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, mengatur dan menguasai alam semesta, menghidupkan dan mematikan, serta memberi rezeki manusia dan mengutus para Nabi. Sebagian bangsa Arab yang lain meski tidak semurni bagian pertama berkeyakinan bahwa apa yang mereka lakukan, baik itu berupa tradisi atau ritual-ritual lainnya, merupakan perintah Allah. Menurut mereka, Allah meridhai  tindakan mereka yang menjadikan berhala sebagai perantara ibadah. Singkatnya, mereka mengakui adanya Allah, meskipun padasaat yang sam mereka juga menyembah dan berdoa pada berhala-berhala.

Ketika mereka berubah menjadi penyembah berhala murni yakni beribadah pada fenomena alam karena meyakini ada roh jahat di dalamnya, mereka sebenarnya sudah mendengar tentang Allah Yang Maha Agung beserta sifat-sifat-Nya. Sedikit demi sedikit, keyakinan itu berkembang di pikiran dan di hati mereka. Hingga pada periode akhir paganism, al-Qur’an turun dan menyatakan dengan tegas tentang keberadaan Allah sebagai penguasa langit dan bumi, yang mengatur alam semesta, tempat kembalinya manusia dan sumber semua kebaikan. Meskipun begitu, saat itu mayoritas bangsa Arab belum sampai pada pemahaman tentang tuhan yang tidak berbentuk, tidak dapat dilihat, dan bebas dari symbol serta mediasi. Jadi, mereka sebenarnya percaya pada keberadaan Allah, tetapi merasa perlu menyembah berhala sebagai simbol penghubung yang terlihat.

Pada masa Jahiliah, sebenarnya tidak hanya bangsa Arab yang menyembah berhala. Banyak juga bangsa modern yang dahulu memiliki sejarah paganisme. Paganisme adalah era yang pernah dilalui hamper semua bangsa sebelum akhirnya beralih pada ajaran tauhid yakni menyembah Tuhan yang satu . paganisme sendiri memiliki berbagai macam model, sesuai dengan perbedaan masa dan kondisi.

SUMBER:SEJARAH KA’BAH/Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *