Artikel

PARA PEMBESAR YAMAN INGIN MENGHANCURKAN KA’BAH

Allah swt telah memberi kelebihan pada negeri Yaman dengan curah hujan yang tinggi dan tanah yang subur, sehingga negeri tersebut memproduksi hasil pertanian yang besar. Inilah yang membuat negeri Yaman tumbuh berkembang dan makmur. Bahkan ia mendapat julukan Bilad al-Arab as-Saidah atau negeri Negeri Arab yang Bahagia. Selain itu, letak geografis negeri Yaman juga sangat strategis, ia berada di jalur perdagangan dunia.

Seperti halnya Yaman, Mekah adalah negeri yang kehidupan penduduknya sejahtera karena keberadaan Ka’abah yang menjadi tujuan ribuan jamaah haji dan pedagang. Pasar-pasar besar tumbuh di sekitar Mekah dan kegiatan perniagaan semakin ramai. Ini semua, membuat sebagian tokoh Yaman khawatir akan berpengaruh negatif pada kegiatan ekonomi mereka. Maka, aroma persaingan anatar Yaman dan Mekah pun mulai terasa. Hingga pada puncaknya , sebagian tokoh Yaman memandang perlu untuk menghancurkan Ka’bah agar kegiatan ekonomi mereka tidak terancam. Tetapi, mereka sendiri ragu melakukannya karena keagungan Ka’bah di mata suku-suku Arab. Mereka khawatir jika Ka’bah di hancurkan membuat tokoh-tokoh di suku Arab menghujat dan menyerang balik mereka.

Sebenarnya, persaingan antara Mekah dan yaman ini bermula ketika sebagian orang Huzail dari Bani Lihyan menyampaikan pada seorang raja di Yaman, “Di Mekah ada sebuah rumah yang diagungkan oleh seluruh bangsa Arab. Mereka berziarah, berkurban dan melaksanakan ibadah haji ke sana. Rumah itu diurus oleh suku Quraisy, hingga membuat suku itu dihormati karena kekuasaan mereka atas Ka’bah.” Dan, orang-orang Huzail terus mendorong raja Yaman tersebut untuk untuk merobohkan Ka’bah dan membangun bangunan yang semisal di Yaman. Orang-orang Huzail berkata pada raja itu bahwa sebenarnya dia lebih berhak menguasai Ka’bah daripada orang-orang Quraisy. Mereka berkata, “Rumah itu (Ka’bah) beserta kemuliaannya lebih baik ada di bawah kekuasaanmu. Seandainya engkau pergi kesana dan merobohkannya, lalu membangun Ka’bah yang serupa di Yaman maka engkau bisa mengalihkan para jamaah haji yang datang ke Mekah, ke Ka’bah yang engkau bangun. Engkau lebih berhak melakukannya daripada kaum Quraisy.”

Mendengar bujuk rayu orang-orang Huzail, si raja itu pun pergi menuju Mekah untuk Menghancurkan Ka’bah. Tapi, sesampainya di Ka’bah ia tidak jadi melaksanakan tekadnya karena tersentuh kesucian dan keagungan Ka’bah. Maka, sebagai penghormatan sekaligus pembatalan niatnya, ia menutup Ka’bah dengan kain dan berkurban di sana. Di antara sejarawan mengatakan bahwa perubahan niat sang raja Yaman itu adalah karena bertiupnya angin topan yang memorakporandakan tenda-tenda tentara mereka. Raja itu yakin bahwa peristiwa yang melanda mereka adalah pertanda murka Allah, sehingga membuatnya takut akan azab-Nya yang lebih besar jika ka’bah benar-benar di hancurkan. Akhirnya, dalam sesalnya ia bertekad menghukum Bani Huzail yang telah memprovokasi dirinya untuk menghancurkan Ka’bah. Dan benar, ia pergi memerangi Bani Huzail.

Sebagaimana yang diriwayatkan al-Umari, kemudian sejarah mencatat bahwa raja inilah orang pertama yang menutup Ka’bah dengan Kiswah. Ketika itu, sang raja bermimpi sedang menutup Ka’bah, maka ia pun merealisasikan mimpinya dan menutup Ka’bah dengan sejenis kain buatan Yaman. Ia juga memasang pintu Ka’bah dengan gagang kunci dari Persia.

SUMBER:SEJARAH KA’BAH/ Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *