Artikel

PENGARUH KA’BAH BAGI PERADABAN QURAISY

Pada masa Abdul Muthalib, kabilah Quraisy memiliki system kekuasaan seperti negara. Mereka bahkan berhasil membuat perjanjian politik dan ekonomi dengan negara-negara besar di sekitar Mekah. Perjanjian-perjanjian ini terwujud karena negara-negara besar tersebut mengakui kabilah Quraisy sebagai kekuatan besar saat itu.

SEJARAH BERKUASANYA QURAISY ATAS KA’BAH

SETELAH Nabi Ismail dibawa Nabi Ibrahim ke Mekah, ia tumbuh di lingkungan Kabilah Jurhum karena pada saat itu Mekah dan Ka’bah ada di bawah kekuasaan itu di rampas oleh Kabilah Khuza’ah. Alasan Kabilah Khuza’ah merebut kekuasaan atas Mekah dan Ka’bah adalah karena Kabilah Jurhum banyak melakukan kekejian dan berbuat jahat pada jamaah haji serta sering mengambil harta milik Ka’bah. Setelah itu, sejarah mencatat, Kabilah Khuza’ah berkuasa atas Ka’bah kurang lebih lima abad. Selama itu, mereka pun membuat banyak kesesatan, di antaranya adalah memunculkan tradisi menyembah berhala di sekitar Ka’bah.

Setelah lima abad berkuasa, Kabilah Quraisy muncul dan berhasil menghimpun kekuatan. Kemudian,  mereka mengambil alih kekuasaan atas Mekah dan Ka’bah dari kabilah Khuza’ah. Saat itu, tokoh dari Kabilah Quraisy yang di angkat menjadi pemimpin Mekah adalah Qushay bin Kilab.

Setelah Kabilah Quraisy berkuasa sekian lama, timbullah perpecahan di tubuh Kabilah Quraisy. Perpecahan itu muncul karena perselisihan di antara dua bani yakni antara Bani Abdud Dar dan Bani Abdu Manaf, keduanya adalah dari keturunan Qushay bin Kilab. Kedua bani tersebut berselisih tentang kepemimpinan Mekah. Tapi, demi menjaga keamanan dan mencegah terjadinya peperangan, mereka sepakat membagi keuasaan. Untuk urusan penyediaan air dan pelayanan akomodasi jamaah haji diserahkan kepada Bani Abdi Manaf. Sementara pemegang kunci Ka’bah, bendera perang dan pengurusan Dar an-Nadwah diserahkan kepada Bani Abdud Dar.

Mereka memilih Bani Abdi Manaf mengurusi penyediaan air bagi jamaah haji karena di antara keturunan Bani Abdi Manaf ada tokoh yang kaya raya dan siap menjalankan tanggung jawab tersebut yaitu Hasyim bin Abdi Manaf. Namun, tidak berarti biaya sepenuhnya dikeluarkan dari hartanya. Ia mengumpulkan dari kaum Quraisy sebagian harta untuk biaya penyediaan makanan dan minuman jamaah haji. Sepeninggal Hasyim bin Abdi Manaf, saudara kandungnya yakni Muthalib meneruskan tanggung jawab penyediaan air dan makanan bagi jamaah haji. Selanjutnya, berpindah lagi pada generasi berikutnya yakni Abdul Muthalib.

Pada masa abdul muthalib, terjadi lagi perpecahan yakni antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Tepatnya, antara Abdul Muthalib bin Hasyim dan Harb bin Umayyah. Perpecahan itu terjadi karena Harb bin Umayyah merasa iri pada Abdul Muthalib bin Hasyim. Demi menghindari peperangan, akhirnya mereka sepakat membawa kasus ini pada seorang hakim sesuai kebiasaan bangsa Arab ketika itu. Sang hakim itu adalah Nufail bin Abdil Uzza. Dan, ketika itu Nufail bin Abdul Uzza memenangkan Abdul Muthalib bin Hasyim, bahkan ia mencela Harb bin Umayyah dan berkata padanya, “Wahai Abu Amru (Harb bin Umayyah), apakah kamu akan menentang seorang laki-laki yang postur tubuhnya lebih tinggi dari kamu, kepalanya lebih besar dari kepalamu, lebih tampan darimu, kekurangannya lebih sedikit darimu, anakna lebih banyak dari anakmu, lebih dermawan darimu dan kekayaannya lebih banyak darimu?” Tapi, ini bukanlah perpecahan yang terakhir di Kabilah Quraisy. Perpecahan dan perselisihan itu terus terjadi, bahkan hingga dinasti Bani Umayyah berkuasa.

Pada masa Abdul Muthalib, Kabilah Quraisy memiliki system kekuasaan seperti negara. Mereka bahkan berhasil membuat perjanjian politik dan ekonomi dengan negara-negara besar di sekitar Mekah. Perjanjian-perjanjian ini terwujud karena negara-negara besar tersebut mengakui Kabilah Quraisy sebagai kekuatan besar saat itu.

Sebelumnya, Hasyim bin Abdul Muthalib sudah berhasil membuat perjanjian damai dan saling dukung dengan kerajaan Romawi dan Ghassan. Berkat perjanjian itu, kerajaan Romawi mengizinkan saudagar-saudagar Quraisy melakukan perniagaan di daerah kekuasaan Romawi dengan aman. Begitu pula Abdus Syam, ia berhasil membuat perjanjian dagang dengan raja Najasy, penguasa Ethiopia saat itu,. Sedangkan, Naufal dan Abdul Muthalib berhasil membuat perjanjian politik dengan Kerajaan Persia dan Dinasti Himyariah di Yaman. Atas keberhasilan tokoh-tokoh kabilah Quraisy ini, hingga bangsa Arab memuji mereka (Hasyim, Abdusy Syam, Naufal, dan Muthalib), “Melalui mereka, Allah menganugerahkan kemaslahatan bagi Kabilah Quraisy maka mereka itulah al-mujirin (para pembawa kemaslahatan).”

JABATAN-JABATAN DI KABILAH QURAISY

DI DALAM PEMERINTAHAN Kabilah quraisy terdapat 15 jabatan bagi pemimpin-pemimpin suku yang dibawahnya. Jabatan itu dibagi secara adil dan merata demi kepuasan para pemimpin suku dan agar masyarakat mereka bebas dari perpecahan dan perselisihan.

Adapun jabatan-jabatan itu adalah:

  1. As-sadinah atau al-hijabah, bertugas mengurus Ka’bah.
  2. As-siqayah, bertugas menyediakan air bagi jamaah haji.
  3. Ar-rifadah, bertugas menyiapkan makanan untuk jamaah haji.
  4. Ar-rayah, bertugas mengibarkan panji perang.
  5. Al-qiyadah, bertugas memegang komando dalam perang atau kafilah dagang.
  6. Al-asymaf, bertugas mengawasi harta-harta denda.
  7. Al-qubbah, memegang tanggung jawab atas keperluan-keperluan perang.
  8. Al-‘ainnah, bertugas memegang tanggung jawab atas hewan tunggangan pada saat perang.
  9. An-nadwah, bertugas mengurus tempat musyawarah dan tempat berkumpul para pembesar Quraisy yang telah berusia lebih dari 40 tahun untuk membicarakan perkara-perkara penting.
  10. Al-masyurah, bertugas memberi nasehat dalam masalah-masalah penting.
  11. As-shafarah, bertugas menjadi duta untuk melakukan perundingan.
  12. Al-asyar, bertugas mengurus patung-patung pilihan.
  13. Al-hukumah, bertugas melerai dan mendamaikan orang-orang yang bertikai.
  14. Al-amwal al-muhajjarah, bertugas menjaga harta benda yang dipersembahkan untuk tuhan-tuhan mereka.
  15. Al-‘imarah, bertugas melarang suara bising dan keributan di sekitar Ka’bah.

 

Jabatan-jabatan tersebut di emban para tokoh kabilah Quraisy hingga terbentuklah sebuah negara mini yang di jalankan oleh putra-putra terbaik mereka. Kaum Quraisy terus mendorong bangsa Arab untuk melakukan ibadah haji ke Ka’bah, untuk itu mereka bekerja keras untuk membela yang lemah dan menegakkan keadilan, sebagaimana mereka juga menyiapkan makanan dan minuman.

As-siqayah dan Ar-rifadah adalah dua jabatan yang paling menonjol. As-siqayah ialah menyediakan minum bagi jamaah haji dari air Zamzam. Abdul Muthalib ialah orang yang bertanggung jawab menyediakan air itu, dan biasanya ia menambahkan dengan sajian madu atau kurma. Adapun Ar-rifadah  ialah menyediakan makanan untuk jamaah haji. Ini juga menjadi tanggung jawab Abdul Muthalib karena dia adalah keturunan Abdi Manaf. Sementara anak-anak pamannya, Abdud Dar, bertanggung jawab atas al-hijabah, al-liwa’, dan Dar an-Nadwah, seperti yang sudah diputuskan oleh hakim ketika dahulu terjadi perselisihan antara mereka.

Meskipun anak-anak Abdud Dar telah berkuasa secara formal atas Dar an-Nadwah, namun secara non-formal Abdul Muthaliblah yang menguasai  Dar an-Nadwah karena daia adalah pemimpin Quraisy dan Mekah. Dar an-Nadwah sendiri adalah rumah atau saat ini semacam gedung pemerintahan Mekah yang ada di sebelah barat daya Ka’bah. Rumah itu dibangun oleh Qushay bin Kilab pada tahun 440 M. para pembesar Quraisy yang dipimpin oleh Abdul Muthalib sering berkumpul di Dar an-Nadwah untuk membahas berbagai perkara penting. Salah satu pertemuan paling genting pada masa Abdul Muthalib adalah pertemuan kaum Quraisy pada saat kedatangan raja Abrahah dari Yaman yang memimpin pasukan Gajah untuk memerangi Mekah dan menghancurkan Ka’bah.

Selain untuk pertemuan, Dar an-Nadwah juga menjadi start bagi kafilah dagang Quraisy yang akan berniaga ke negeri seberang sekaligus menjadi tempat pertama kembali mereka sebelum ke rumah. Jika seorang anak Quraisy mencapai usia baligh, ia akan di khitan di Dar an-Nadwah. Demikian juga jika seorang anak perempuan mereka memasuki usia baligh, ia akan dibawa keluarganya ke Dar an-Nadwah untuk dinikahkan. Pernikahan bagi Quraisy adalah urusan kesukuan bukan urusan keluarga. Oleh karena itu, mereka bermusyawarah di Dar an-Nadwah ketika hendak menikahakan anak-anak prempuan mereka. Musyawarah itu membahas tentang sejauh mana kecocokan mempelai pria dengan anak perempuan mereka dan sebanding atau tidak dengan anak perempuan mereka. Dan informasi yang tidak kalah penting lainnya, Dar an-Nadwah adalah tempat diadakannya persekongkolan berbagai suku di Mekah untuk membunuh Nabi.

PARA PEMIMPIN QURAISY DI MATA SUKU-SUKU ARAB

Sistem politik moderat yang diterapkan para pemimpin Quraisy adalah faktor utama yang membuat mulia status kaum Quraisy di Mekah, di Tanah Arab, dan bahkan di seluruh dunia ketika itu. Perjanjian-perjanjian yang telah di buat Hasyim bin Abdi Manaf dengan negara-negara tetangga adalah bukti pengakuan dunia ketika itu terhadap kadaulatan Quraisy sebagai sebuah negara bukan sekedar kabilah. Meskipun istilah “Negara Quraisy” ini berbeda dengan negara pada umumnya yang memiliki sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan yang rapi, tetapi inilah fakta yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi mereka di Mekah dan negeri Hijaz saat itu.

Selain sistem kesukuan atau pemerintahan yang moderat, kegagalan Pasukan Gajah menyerang Mekah pada masa Abdul Muthalib juga memiliki andil yang besar dalam mengangkat pamor Quraisy di seluruh Jazirah Arab. Kegagalan itu, membuat bangsa Arab yakin bahwa Quraisy adalah sistem pemerintahan yang kuat, bukan sekadar kumpulan kabilah-kabilah dan suku-suku.

Fakta ini, tentunya bertolak belakang dengan pendapat para sejarawan yang serikali melihat masyarakat Arab pada masa Jahiliyah sebagai kumpulan suku-suku, di mana masing-masing suku memiliki aturan dan perilaku politik dan sosial sendiri-sendiri. Mereka berpendapat bahwa suku-suku tersebut adalah komunitas fanatik dan saling bermusuhan, seakan-akan masing-masing suku adalah umat yang berdiri sendiri. Masyarakat Arab jahiliah bukanlah seperti yang mereka gambarkan sebagai masyarakat jumud dan berpecah belah. Mereka aktif melakukan gerakan-gerakan politik untuk menciptakan kesatuan dan kebersamaan antar suku-suku yang ada, baik dengan percampuran nasab atau perjanjian.

Dari sudut pandang ini, kita dapat menilai bahwa ketika itu kaum Quraisy telah mendirikan pemerintahan di Mekah seperti pemerintahan republik saat ini. Mereka menjadikan tanah di sekitar Ka’bah sebagai Tanah Haram yang harus dihormati, disucikan dan diharamkan perang di dalamnya. Mereka mendirikan markas-markas khusus di kota Mekah untuk menjaga dan melindungi Ka’bah. Hingga Quraisy akhirnya dihormati hamper semua suku Arab karena komitmennya dalam menjaga dan melestarikan Ka’bah.

Ini sesuai dengan pendapat al-Jahizh yang menyebutkan bahwa di antara kelebihan-kelebihan suku Quraisy dibanding suku-suku Arab lainnya adalah karena kedermawanan, keunggulan intelektual, kematangan berpikir, manajemen yang baik dan keluwesan sikap mereka terhadap bangsa-bangsa di luar Mekah. Semua ini mereka lakukan demi menjaga eksistensi mereka sebagai kabilah dagang. Sehingga mereka berusaha sekuat mungkin menciptakan suasana politik yang baik, damai, dan stabil, baik itu anatr suku di Mekah maupun dengan negara-negara besar di sekitarnya seperti Romawi dan Persia. Apalagi, letak geografis Mekah sangat strategis. Ia berada di jalur perdagangan dunia, di mana kafilah-kafilah dagang mengambil persediaan air untuk perjalanan mereka dari sumur Zamzam.

Imam az-Zamakhsari dalam al-kasyyaf berkata, “Kaum Quraisy mempunyai dua perjalanan niaga, di musim dingin mereka ke Yaman dan di musim panas mereka ke Syam. Mereka adalah kaum yang menempuh perjalanan dengan aman karena hampir semua bangsa saat itu tahu mereka adalah penduduk Tanah haram yang mengurus Rumah Allah. Maka tidak ada yang sudi mengganggu mereka. Sementara kafilah lain banyak yang diculik di tengah perjalanannya atau diserang.

Itulah kaum Quraisy, kaum yang memegang teguh dan menganggap bahwa wilayah di sekitar Ka’bah adalah Tanah Suci sehingga menjadikannya sebagai Tanah Haram, di mana tidak boleh ada peperangan. Mereka juga memiliki komitmen tinggi untuk menjaga keamanan wilayah tersebut demi terciptanya kehidupan yang tenang, meskipun di sekitar mereka sering terjadi perang. Berkat kerja keras mereka menjaga Ka’bah di Mekah, pamor mereka di mata dunia turut meningkat.

SUMBER:SEJARAH KA’BAH/Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *