Artikel

CARA MUDAH MENGENAL TUHAN

Sebenarnya dalam diri manusia, terkandung potensi yang dapat mendukung kehidupannya, seperti potensi akal dan pikiran dan ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dari alam dan dari petunjuk yang terjamin kebenarannya, yakni Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang sejarah kehadiran umat manusia mulai dari Adam a.s. yang berfungsi selain sebagai manusia pertama di bumi juga sekaligus nabi pertama yang membawa petunjuk kepada sesamanya. Selain Adam a.s. terdaoat beberapa nama nabi dan rasul dalam Al-Qur’an, seperti Ibrahim, Yusuf, Hud, Muhammad dan sebagainya. Nama-nma itu dirinci di dalam Al-Qur’an sekitar 25 nama yang disebutkan sebagai manusia pilihan Allah sepanjang sejarah manusia hadir di muka bumi.

Para nabi dan rasul itu sangat menonjol dalam sejarah kehidupan manusia sebagai pemimpin, baik dalam hal keagamaan maupun sosial. Jumlah mereka cukup banyak, sehingga tidak tercatat semua namanya dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada Yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu,” (QS Al-Mu’minun:78).

Dalam Teologi Islam, para ulama memberikan suatu penjelasan bahwa jumlah para nabi itu mencapai 124.000 orang, namun yang wajib diketahui hanya 25 orang, karena sebagian kisah perjalanan hidup dan pokok-pokok ajaran mereka tercatat dalam Al-Qur’an. Semua pola kepercayaan yang diajarkan para nabi dan rasul kepada manusia dimaksudkan agar manusia selamat melintasi kehidupannya dengan pola yang sama, yaitu dengan cara mengenal Tuhannya dan mengabdi kepada-Nya. Pada prinsipnya kepercayaan yang disampaikan para rasul adalah laillaha illallah (tiada Tuhan selain Allah).

Ada lima tema pokok upaya para nabi memberikan penjelasan dan prinsip yang sama kepada umatnya untuk mengenal Tuhannya. Di dalam Al-Qur’an diungkapkan pada waktu nabi mengajak ahlul kitab kembali kepada prinsip yang sama, ‘Allah berfirman: “Hai Ahli Kitab, marilah kembali kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan kembali antara kami dan kamu,” (QS. Ali Imran:64). Ayat ini mengajak  ahlul kitab agar kembali pada prinsip yang paling mendasar yaitu mengabdi kepada Tuhan. Prinsip selanjutnya Al-Qur’an merinci bagaimana seharusnya kita percaya kepada Allah.

Walaupun pada awalnya manusia percaya kepada Allah, tetapi dalam proses kehidupan selanjutnya kepercayaan yang dianut tersebut ada yang kabur dari bentuk aslinya dan menyebabkan timbulnya kepercayan, seperti politeisme, yaitu kepercayaan yang meyakini bahwa Tuhan itu banyak. Hal ini terjadi di sepanjang sejarah manusia. Misalnya pada zaman Nabi Nuh digambarkan bahwa sudah ada sekelompok manusia yang menganut kepercayaan yaitu penyembahan ada berhala. Begitu pula pada zaman Rasulullah Saw. Masyarakat kota Makkah ketika itu telah didominasi berbagai bentuk kepercayaan dan penyembahan kepada berhala-berhala (ibadatu al-ashnam). Dalam salah satu sumber sejarah disebutkan bahwa ketika zaman Rasulullah saw. Telah terdapat 360 berhala yang dipercayai dan disembah secara aktif oleh masyarakat di kota Makkah, sebagian berhala masyarakat jahiliah itu dipajang di sekitar Ka’bah.

Dalam perjalanan turunnya Al-Qur’an, kelihatan proses dialogis dengan masyarakat Makkah ketika  itu Al-Qur’an memberikan pedoman, petunjuk, dan koreksi terhadap perkembangan kepercayaan mereka. Tujuan utama wahyu itu adalah meluruskan kepercayaan manusia terhadap Tuhannya dengan memberikan rumus-rumusnya secara ringkas. Misalnya pada surat Al-Ikhlas yang menerangkan bahwa Tuhan itu Esa atau Tunggal, tidak beranak  dan tidak berorang tua, tidak bergantung pada sesuatu apa dan siapapun, tetapi Dia merupakan tempat meminta, pengharapan, dan tempat mengabdi satu-satunya. Oleh karena itu, kesempurnaan keagamaan seseorang harus dimulai dari masalah kepercayaan atau keimanan melalui wahyu Allah yang akan mengantar seseorang mengenal Tuhannya secara sempurna dengan memberdayakan potensi akalnya secara optimal.

Kalua dikaji lebih jauh di dalam Al-Qur’an, terutama ayat-ayat kauniyah (kosmologis), akan ditemukan penjelasan bahwa terdapat suatu ruang yang disebut alam yang sangta luas dan penuh segala macam makhluk dan menggambarkan seakan-akan tak terbatas (borderless). Satu di antar alam itu adalah bumi. Dalam pelajaran astronomi dikatakan bahwa bumi ini merupakan satu titik kecil di antara alam raya jika dibandingkan dengan galaksi yang amat luas.

Dalam Al-Qur’an telah dipertegas bahwa manusia adalah bagian dari bumi dan berasal dari bumi. Keterangan ini misalnya ditemukan dalam surat Thaha yang menyatakan bahwa dari bumi manusia diciptakan dan ke bumi juga manusia dikembalikan, dan suatu ketika manusia akan dibangkitkan kembali yang merupakan kelanjutan kehidupan sesudah kehidupan duniawi. Kandungan surat Thaha ini menerangkan bahwa manusia merupakan bagian dari bumi. Namun demikian masih banyak manusia yang tidak memahami betul hubungannya dengan bumi, sehingga dalam peradaban lama terdapat sekelompok manusia yang rela menghambakan dirinya kepada kekuatan-kekuatan alam. Mereka termasuk penganut animisme, dan penyembah berhala berupa patung, batu, dan sebagainya. Mereka meyakini bahwa benda-benda itu memiliki kekuatan (magis) dapat menyejahterakan dan menyelamatkan hidupnya.

Dalam kajian filsafat diceritakan bahwa penyebab manusia menghambakan dirinya pada kekuatan alam, karena manusia itu merupakan makhluk lemah. Salah satu ciri hakikat manusia adalah adanya rasa takut di dalam hatinya, karena kesadrannya pada kelemahan dirinya. Tuhan mengungkapkan dalam Al-Qur’an  tentang hakikat manusia seperti itu, yakni ketika kebutuhan manusia untuk mendapatkan perlindungan, maka mereka melihat adanya gejala-gejala alam yang kuat. Inilah yang mengantar manusia pada suatu kesimpulan bahwa dalam diri benda itu terdapat suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia. Masyarakat seperti ini kemudian termotivasi untuk menyembah, mengabdi, beribadah, mempertuhankan, dan menghambakan dirinya pada makhluk-makhluk alam. Kesemuanya ini dijelaskan dalam Al-Qur’an  dengan tujuan untuk memberikan pengertian kepada manusia bahwa sesungguhnya alam dan seluruh bagian-bagiannya adalah sama. Bahkan lebih dari itu, Al-Qur’an memberikan penjelasan bahwa manusia berada pada satu tingkat lebih tinggi daripada makhluk lainnya. Hal ini dapat dilihat dalam:

  1. Surat At-Tin yang mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk yang paling sempurna di antara semua makhluk yang ada di jagad raya ini.
  2. Surat Al-Isra’ menjelaskan bahwa Tuhan memberikan suatu kehormatan kepada manusia yang di namakan martabat manusia.
  3. Surat Al-Ahzab mengingatkan bahwa Tuhan memberikan kehormatan kepada manusia sebagai pengemban amanah. Tugas terakhir ini dapat di lihat pada Surat Al-Baqarah:30 yang menggunakan kata khalifah yaitu sebagai pengemban amanah untuk mengurus bumi.

Dari penjelasan ini, dengan mudah di pahami bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan manusia tidak boleh menempatkan dirinya lebih rendah dari makhluk-makhluk yang ada di alam raya ini, tetapi justru sebaliknya, yakni harus menempatkan dirinya lebih tinggi dari makhluk-makhluk lainnya. Oelh karena itu, tidak wajar kalau manusia mengabdi pada bagian ala mini, betapapun hebatnya, kuatnya, dan sebagainya.

Demikianlah Al-Qur’an menjelaskan bagaimana manusia itu seharusnya memposisikan dirinya di tengah-tengah alam sebagai makhluk terhormat dan bermartabat. Karena itu, diharapkan manusia dengan statusnya sebagai pengemban amanah, dapat mengelola alam ini dengan baik, yang berarti pula merupakan wujud dari ibadah yang diinginkan oleh ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an, yakni bagaimana seharusnya menyikapi alam yang diberikan Tuhan untuk mendukung kehidupan umat manusia tersebut.

Untuk menjaga agar manusia tidak sampai pada kekaguman berlebihan kepada makhluk lain, apalagi menyembahnya, maka harus ada pemahaman bahwa Tuhan Maha Besar atas segalanya, termasuk alam raya yang begitu luas ini. Dari pemahaman ini akan timbul dalam diri manusia bahwa yang pantas dan patut disembah adalah Tuhan Pemilik alam semesta, karena Tuhan adalah Pencipta dan Pemiliknya. Manusia harus menempatkan dirinya lebih mulia disbanding dengan makhluk-makhluk lain, bagaimana pun besarnya kekuatan yang dimiliki oleh alam sekitarnya. Manusia hanya wajib berpengharapan kepada Pencipta dan Pemilik alam dan makhluk lainnya.

Dalam filsafat kosmologis Yunani sebelum masehi, kekaguman dan ketakjuban manusia terhadap peristiwa alam tidaklah membuat mereka menjadi penyembah kejadian alam tersebut, tapi justru berusaha mencari kekuatan yang ada di balik peristiwa itu, meskipun kesimpulan mereka berbeda-beda terhadap siapa penentu terakhir (arche) dari proses kejadian alam yang mereka amati. Ada yang berkesimpulan bahwa tanah, air, api, dan udara bukan zat, tetapi keuatan gaib yang tidak dapat diindera dan berada di balik ala mini (metafisika). Itulah sumber kekuatan dari seluruh proses kejadian di alam raya ini, dan itulah Tuhan.

Bagi yang berakidah Islam dengan mudah memahami bahwa Tuhan adalah Pemilik, Pencipta dan Pengatur alam, maka yang pantas disembah hanyalah Tuhan (Allah), sedangkan makhluk lainnya adalah ciptaanNya.

SUMBER: BERAGAMA SECARA PRAKTIS “AGAR HIDUP LEBIH BERMAKNA”/ Prof. K.H. Ali Yafie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *