Artikel

PENGARUH MEKAH BAGI KESUKSESAN QURAISY

Tokoh-tokoh dagang dari quraisy

Hasyim Bin Abdi Manaf adalah orang pertama yang membuka dua perjalanan dagang dari Mekah; musim dingin ke arah Yaman dan musim panas ke arah Syam. Dua perjalanan inilah yang kemudian menjadi sangat signifikan bagi perekonomian di masa Abdul Muthalib. Tidak hanya meningkatkan taraf hidup kaum Quraisy dan penduduk Mekah, tapi seluruh bangsa Arab. Dengan dua perjalanan dagang ini, mereka berhasil meningkatkan perjanjian-perjanjian dagang dengan berbagai negeri di sekitar Mekah. Seperti, Persia, Romawi, Habasyah, Ghassasinah, dan suku Himyar di Yaman. Perlahan tapi pasti, peta dagang kaum Quraisy kian meluas hingga ke berbagai penjuru dunia. Ketika itu selain berdagang kaum Quraisy juga berprofesi sebagai penyedia jasa transportasi. Pada masa Abdul Muthalib ini, perdagangan Quraisy mengalami kemajuan yang pesat dan kota Mekah menjadi makmur karena pertumbuhan ekonomi dan peradaban kaum Quraisy.

Al-Quran sendiri telah menyinggung tentang dua perjalanan dagang suku Quraisy di atas. Dalam surah Quraisy Allah swt. berfirman, “Karena kebiasaan (al-îlâf) orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. Quraisy [106]: 1-2).

Di negeri Syam, banyak orang yang menyebut kedatangan kafilah dagang kaum Quraisy dengan “Serangan Hasyim”. Itu karena, Syam menjadi prioritas perjalanan dagang Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian langkahnya ini diikuti oleh generasi dia berikutnya. Adapun perjalanan dagang ke negeri tetangga yang pertama-tama dibuka oleh tokoh Quraisy adalah Syam, kemudian Habasyah, Yaman dan Persia. Kedatangan mereka ke negara-negara tetangga inilah yang akhirnya menyelamatkan ekonomi generasi Quraisy selanjutnya. Makanya, keempat tokoh itu disebut kaum Quraisy dengan al-mujîrîn (para penyelamat). Atau bahkan orang-orang Arab dari suku lain menyebut mereka dengan “aqdâh an-nidhâr” atau “bejana-bejana emas”. Mereka disebut demikian karena tingginya nasab dan jasa mereka. Mereka telah berjasa membuka pintu dagang bangsa Quraisy dengan kerajaan-kerajaan besar. Dan kaum Quraisy dengan tidak pernah menyia-nyiakan jasa mereka yakni dengan menjadikan perniagaan sebagai sumber utama kehidupan ekonomi mereka serta terus menjaga hubungan baik dengan bangsa-bangsa sekitar yang sudah terjalin lama.

Perjuangan empat tokoh Quraisy yakni Hasyim, Abdusy Syam, Muthalib, dan Naufal telah mendongkrak ekonomi kaumnya dan jaringan dagang mereka bertambah luas. Sebelum kemunculan empat tokoh tersebut peta dagang Quraisy hanya sebatas di dalam kota Mekah saja. Padahal ketika itu saudagar asing sudah banyak yang datang ke kota Mekah untuk menjajakan berbagai jenis komoditas. Tapi, orang-orang Quraisy hanya membeli barang-barang tersebut dan memperjualbelikannya kembali ke sesama Quraisy dan orang-orang Arab di sekitar Mekah.

Mekah sering didatangi saudagar asing karena sejak zaman dahulu, Jazirah Arab adalah jalur perdagangan dunia. Bangsa Arab mengirim hasil panen mereka khususnya bukhȗr al-yaman (wewangian dari Yaman) ke negeri-negeri lain seperti Syam dan Mesir. Kedua negeri itu adalah penadah minyak wangi dari Yaman paling besar karena banyak kuil-kuil di sana yang selalu membutuhkan minyak wangi untuk sesaji dan persembahan pada berhala. Setelah itu, bangsa Arab mengambil hasil panen dari negara-negara tersebut (Syam dan Mesir) untuk dikirim kembali dari negara lain. Tapi, saat itu jalur laut masih belum aman, sehingga mereka lebih sering menggunakan jalur darat. Di Jazirah Arab sendiri hanya ada dua jalur perniagaan yaitu dari Hadramaut menuju Bahrain dan satunya lagi menyebrangi Laut Merah. Nah, kota Mekah persis di tengah-tengah dua jalur niaga besar ini.

Hampir seluruh bangsa Arab merasakan keuntungan karena jalur perdagangan ini. Di antara mereka bahkan ada yang rela tinggal di sepanjang jalur perdagangan, agar mudah menjajakan dagangannya. Tapi, tidak semua bangsa Arab menjadi pedagang. Ada juga yang dari mereka di sewa untuk menjadi pemandu jalan atau penuntun hewan kendaraan. Dan, saudagar-saudagar asing sangat beruntung dan senang mereka dipandu karena mereka dikenal dan sangat menepati dan menghormati janji dan perjanjian. Sifat inilah salah satu hal yang kemudian jadi bagian penting dari kesuksesan bangsa Arab dalam berniaga.

Dahulu, sebelum bangsa Arab sukses berdagang, perdagangan di Jazirah Arab dikendalikan oleh orang-orang Yaman. Tetapi, setelah runtuhnya bendungan Ma’rib dan merosotnya peradaban Yaman, sejak saat itu sekitar abad ke-6 Masehi kaum Arab Hijaz, khususnya suku Quraisy, mengambil alih posisi mereka.

Kisah pengambilalihan itu bermula ketika Dinasti Habasyah berhasil menaklukkan dinasti Himyariyah di Yaman. Sejak saat itu, era penjajahan Habasyah atas Yaman pun dimulai. Ketika Yaman terjajah ini, perekonomian Jazirah Arab kian pudar dan melemah. Quraisy pun bangkit dan memanfaatkan keruntuhan Yaman untuk mengambil alih kendali di Jazirah Arab. Mereka membeli barang-barang dari Yaman dan Habsayah, lalu menjualnya kembali di pasar-pasar Persia. Mereka memilih pasar-pasar Persia karena pada saat itu perdagangan di sana dikuasai oleh bangsa Arab dari dinasti Hirah.

Setelah dapat merebut kendali dagang di Jazirah Arab, suku Arab Hijaz menjadikan Mekah sebagai pusat perdagangan. Peristiwa ini terjadi ketika Quraisy di bawah pimpinan Abdul Muthalib. Pada masanya, perdagangan di Jazirah Arab mencapai puncaknya karena Romawi dan Persia sedang berseteru sehingga tak mungkin kedua belah pihak mengadakan perjanjian dagang. Akhirnya, Romawi mengandalkan impor barang-barang mewah dari Mekah, khususnya kain sutra.

Sejarawan De Lacy O’leary dalam bukunya, Arabia Before Muhammad menjelaskan bahwa pada masa Abdul Muthalib banyak orang Romawi yang membeli rumah di Mekah untuk mereka gunakan berniaga. Rumah-rumah itu berfungsi ganda yaitu untuk sentra kegiatan berniaga biasa, sekaligus untuk memata-matai bangsa Arab. Selain orang-orang Romawi, ada pula orang-orang Habasyah yang tinggal di sana. Mereka mengelola barang-barang dagangan yang dibawa dari negara mereka sendiri.

Riuhnya jalur dagang melalui Mekah ketika itu, bisa digambarkan seolah unta adalah bahtera gurun pasir yang mengangkut kafilah-kafilah dagang dari berbagai negara. Dan, orang-orang Badui yang memandu kafilah itu laksana nahkoda di padang pasir. Orang-orang Badui itu mengarungi berbagai kawasan dan kondisi sahara bersama kafilah-kafilah yang mereka pandu. Berbagai macam bangsa dari negara-negara sekitar Mekah bertemu di Hijah dalam rangka dagang. Seperti dari India, Habasyah, Yaman, dan Syam. Dan, hampir semua buku sejarah klasik, menjelaskan faktor penting dari jalur-jalur niaga di kawasan Hijaz ini.

Kaum yang paling diuntungkan dari kondisi ini adalah Quraisy. Mereka pun giat berdagang hingga kekayaan mereka melimpah. Mereka menginvestasikan harta mereka dalam jual beli unta, domba, bahan pakaian, barang tambang, kulit, dan kain tenun. Semua dagangan itu mereka pasarkan di kota-kota besar Jazirah Arab seperti Tunis, Bashrar, dan Damaskus. Selain itu mereka juga menjual permata yang diimpor dari Manaf dan Hermopolis (Yunani), gading dan bulu burung unta dari Habasyah dan Sudan, serta kayu-kayu yang didatangkan dari kota-kota Tyre, Sidon, dan Lebanon, serta kertas dari Syam dan Nablus.

Dahulu sebelum menjadi pusat perdagangan dunia, Jazirah Arab adalah medan yang berat bagi semua suku selain Quraisy. Quraisy memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai seluk beluk padang pasir, jalur-jalur terbaik, tempat-tempat yang aman dan tidak aman, ditambah lagi mereka sangat teliti dan hati-hati dalam menempuh perjalanan. Sementara itu penduduk Syam, Habasyah dan bangsa lainnya tidak mampu melakukan perjalanan di gurun yang penuh dengan bahaya. Jadi, Quraisy adalah pemain tunggal dalam siklus perdagangan di Jazirah Arab. Kemampuan inilah yang membuat mereka sukses dan kaya raya.

Tapi, semua itu tidak mengubah sikap mereka. Mereka tetap kuat dan teguh menjaga persatuan antar suku. Bahkan mereka memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk memnerima dan menjamu setiap tamu yang berkunjung ke Mekah. Hingga orang-orang yang pernah ke Mekah memuji Quraisy dalam bentuk syair-syair yang indah.

Seiring dengan meningkatnya aktivitas mereka dalam perniagaan, citra Mekah sebagai kota suci kian meningkat di mata bangsa Arab dan bangsa-bangsa lainnya. Terutama, setelah Mekah selamat dari pasukan Habasyah pada masa Abdul Muthalib. Kaum Quraisy pun menyadari hal itu, hingga tidak ada alasan lagi bagi mereka dan suku-suku lainnya di Arab untuk tidak mempertahankan kedudukan terhormat tersebut. Bahkan mereka siap memerangi siapa saja yang menodai kesucian Mekah. Ini merupakan anugerah bagi bangsa Arab, sehingga suku-suku lain selain Quraisy pun ikut bahu-membahu menjaga kota Mekah demi kemakmuran bersama. Mereka sadar bahwa tanpa Ka’bah dan Mekah, kehidupan di tanah yang tandus dan gersang itu sangatlah sulit. Oleh karena keberadaan Ka’bah, mereka dapat hidup sejahtera dengan berdagang. Bahkan, perdagangan di Mekah tahun demi tahun kian tumbuh pesat. Pasar-pasar musiman semakin ramai dan menjadi kehidupan tersibuk sepanjang tahun di Tanah Arab.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi yang sudah mapan itu, Quraisy terhitung suku yang sangat cerdas di masanya. Mereka tidak hanya memikirkan perdagangan, tapi juga mengamati perkembangan dan disituasi politik dunia. Sehingga, mereka sangat serius mengkaji hubungan antara negara-negara di sekitarnya seperti Romawi, Persia, Habasyah dan Yaman.

Bisa dikatakan, perniagaan Quraisy ketika itu adalah sekolah atau fakultas ekonomi saat ini, yang berhasil membentuk individu-individu sekelas ekonom. Hal semacam ini, tentu saja tidak ada komunitas-komunitas dagang suku manapun. Quraisy mengajarkan pada kaumnya berbagai ilmu tentang kalkulasi dagang dan persoalan perdagangan lainnya seperti ilmu tentang timbangan, volume, mata uang asing, kontrak, sukuk, strategi-strategi dagang dan berbagai hal lainnya.

Dari perdagangan ini, kaum Quraisy tidak hanya mendapat keuntungan materi. Tetapi, mereka juga mendapatkan keuntungan berupa keragaman budaya dan peradaban. Keragaman budaya dan peradaban Quraisy itu berasal dari para pedagang mereka yang sengaja maupun tidak sengaja, menelaah karakteristik kerajaan Romawi dan Persia saat mereka mengunjungi kota-kotanya dan berbaur dengan penduduk dalam berdagang. Mereka bahkan telah menyerap banyak istilah dari kata-kata Persia dan Romawi yang kemudian dimasukkan ke dalam kosa kata bahasa Arab.

Kejayaan peradaban quraisy

Mekah dan Madinah adalah dua kota yang membuat Jazirah Arab menjadi pusat perniagaan dunia. Kedua kota itu dihuni oleh penduduk yang kaya raya. Mereka memiliki simpanan harta dan barang-barang berharga lain yang membuat kehidupan mereka sangat sejahtera. Ekonomi penduduk dua kota tersebut salah satunya adalah Quraisy di atas rata-rata penduduk kota lain di Jazirah Arab.

Al-Wafidi meriwayatkan bahwa bangsa Arab menambah emas di pertambangan Sulaim lalu membawanya ke Mekah. Di sana, mereka membuat berbagai macam perhiasan kemudian disimpan di bank emas. Dari perniagaan yang mereka jalankan itu, sebagian penduduk Mekah memiliki kekayaan yang melimpah. Harga-harga rumah di Mekah dinilai dengan emas yang bervariasi dari 200 sampai 500 dinar. Penduduk juga memiliki kuda-kuda yang istimewa. Mereka bahkan gemar berbangga-bangga dengan jumlah kuda yang mereka miliki. Selain itu orang-orang Mekah terkenal ramah, santun, dermawan, dan hormat pada tamu. Kedermawanan ini tampak jelas pada saat musim haji, ketika mereka menyediakan berbagai fasilitas untuk kenyamanan para jamaah.

Tapi, selain aspek ekonomi, peradaban kaum Quraisy juga mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Sejarah mencatat bahwa sebelum datangnya Islam, Quraisy belum pernah mencapai peradaban segemilang itu. Tepatnya, pada masa kepemimpinan Abdul Muthalib. Meskipun Qushay bin Kilab adalah orang yang pertama menanamkan akar-akar peradaban Quraisy, tetapi Abdul Muthalibah yang berhasil mendongkraknya.

Pada masa kepemimpinan Abdul Muthalib nyaris tidak ada peperangan antarsuku seperti yang biasa terjadi pada masa-masa sebelumnya. Sebelum Abdul Muthalib memimpin, peperangan dan konflik antar suku telah melumpuhkan kegiatan ekonomi bangsa Arab, dan mengancam kalifah-kalifah dagang dari negara tetangga. Konflik antar suku juga mengancam kafilah-kafilah Quraisy, khususnya kafilah dagang musim panas dan musim dingin yang menjadi sumber pendapatan terpenting mereka. Abdul Muthalib kemudian muncul dan berusaha keras menyelesaikan seluruh konflik yang ada untuk mewujudkan perdamaian.

Ketika itu, Abdul Muthalib menyelesaikan semua persoalan antar suku dengan jalan takhîm (arbitrase). Sebagaimana yang ia lakukan ketika terjadi konflik antara dirinya dan sepupunya yang bernama Umayyah bin Abdusy Syams. Demikian juga ketika ia menemukan kembali sumur Zamzam yang terkubur dan berbagai perhiasan berharga dari emas. Terjadilah perselisihan yang sengit antara Abdul Muthalib dan kaum Quraisy yang menuntut sebagian harta yang ia temukan itu. Maka, ia menempuh jalur tahkîm karena cara ini adalah yang paling jitu untuk menyelesaikan suatu persoalan di Jazirah Arab.

Ketika Abrahah datang memimpin pasukan Habasyah untuk memerangi Mekah dan menghancurkan Ka’bah, Abdul Muthalib juga menempuh jalur arbitrase. Perundingan memang sering kali berhasil daripada menghunus pedang dan mengobarkan perang. Itulah sebabnya Abdul Muthalib dikenal sebagai tokoh perdamaian yang bekerja untuk menegakkan keamanan dan ketenangan di kota Mekah dan di negeri-negeri Arab. Hingga, suku Quraisy sendiri sebagai simbol perdamaian di Jazirah Arab, sekaligus penggagasnya. Mereka telah memahami esensi pentingnya perdamaian dan manfaat yang mereka dapatkan secara ekonomi dan materi.

Itulah sebabnya, kaum Quraisy sangat membenci perang dan perbuatan yang menimbulkan rasa benci di antara mereka dan tetangga. Mereka menganggap tetangga-tetangga adalah sekutu, penolong dan tamu-tamu. Saat berdagang mereka tak lupa berkunjung ke tetangga-tetangga tersebut karena itulah mereka bisa sampai ke Syam, Yaman, Najad, Tihamah, dan Najran.

Nilai-nilai yang ditanamkan Abdul Muthalib inilah yang mengubah sistem politik kaum Quraisy cenderung demokratis. Bahkan jika dibandingkan kerajaan-kerajaan modern seperti Romawi dan Persia, sistem demokrasi Quraisy yang notabene adalah kabilah, bukan negara, jauh lebih baik. Hal ini tercermin dari adanya Dâr an-Nadwah yang mirip dengan gedung parlemen modern saat ini. Sehingga, tidak ada satu pun tokoh Quraisy yang otoriter dan memaksakan kehendak karena semua keputusan harus disampaikan terlebih dahulu dihadapan para tokoh Quraisy di Dâr an-Nadwah. Bahkan masalah pernikahan gadis-gadis Quraisy pun dibicarakan Dâr an-Nadwah. Hal itu karena, pernikahan adalah masalah krusial bagi suku Quraisy. Ia bukan sekedar urusan pribadi karena bangsa Arab adalah bangsa yang membanggakan nasab atau garis keturunan.

Pendidikan kaum quraisy

Sebenarnya, sebagian besar orang Arab tidak terlalu memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, terutama dalam hal membaca dan menulis. Di samping karena saat itu  pendidikan di Jazirah Arab kurang maju, kebanyakan dari mereka sibuk mencari penghidupan dengan berdagang daripada belajar atau mengajar. Namun demikian, Allah swt. menggantikan kemalasan mereka dalam belajar membaca dan menulis itu dengan daya ingat yang kuat, wawasan yang luas, kesabaran, dan keteguhan serta imajinasi yang tinggi.

Berbeda halnya dengan Quraisy. Ia adalah satu-satunya kabilah yang paling memerhatikan pendidikan generasi penerusnya. Oleh karena itu, wajar jika kemudian mereka mencapai peradaban yang tinggi dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat tajam sehingga mampu menjalin hubungan baik dengan bangsa-bangsa besar. Kaum Quraisy sangat memerhatikan pendidikan karena mereka menyadari bahwa ilmu merupakan faktor utama yang mendukung keberhasilan niaga. Makanya, banyak tokoh Quraisy seperti Abdul Muthalib yang menguasai dengan baik keterampilan menulis, membaca, dan berhitung.

Sejak dahulu, kaum Quraisy memang dikenal mahir dalam berbagai bidang ilmu. Selain ilmu berdagang yang mereka pelajari lewat pengalaman dan latihan, mereka juga mahir dalam ilmu anwâ’ yaitu ilmu untuk mengetahui waktu-waktu turun hujan dan waktu datangnya badai. Mereka juga memiliki penguasaan yang baik dalam ilmu jejak yaitu ilmu untuk mencari jejak di padang pasir guna melacak jalur-jalur perjalanan kafilah dagang. Mereka juga sangat menguasai ilmu nasab. Kaum Quraisy mendalami ilmu itu karena menyadari akan mulianya nasab mereka di kalangan suku-suku Arab. Oleh karena itulah mereka menghafal nasab-nasab dengan jeli dan akurat. Bahkan, muncul di kalangan mereka ahli-ahli ilmu nasab yang sangat terkenal di kalangan bangsa Arab.

Al-Jahizh menyebutkan dengan rinci sifat-sifat bangsa Arab dan ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Ia berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berotak tajam dan berjiwa pemikir. Mereka mampu menerjemahkan imajinasi ke dalam syair dan kata-kata mutiara. Mereka memiliki ingatan yang sangat kuat. Mereka piawai mencari jejak kafilah dagang di padang pasir, hafal nasab-nasab bangsa Arab, pandai membaca rasi bintang sebagai penunjuk arah, bahkan mereka mahir mengambil memprediksi musim. Mereka juga ahli menunggang kuda dan memainkan senjata. Selain itu, mereka mahir mengambil pelajaran dari semua yang mereka tangkap dari indera. Mereka juga menguasai hukum-hukum tentang manaqib. Pencapaian mereka ini, benar-benar di luar bayangan banyak orang. Semua kelebihan ini menjadikan mereka orang-orang yang berjiwa besar, bercita-cita tinggi dan menjadi bangsa paling membanggakan yang selalu dikenang sejarah.”

Al-Alusi juga pernah berkata dalam kitabnya, “Bulȗgh al-Arîb, “Bangsa Arab adalah bangsa yang paling sempurna  secara akal dan imajinasi, paling fasih, dan paling cepat paham. Semua itu, membuat mereka mempunyai banyak kelebihan dan kemuliaan.” Ibnu Rasyiq dalam kitabnya, “al-‘Umdah” juga berkata, “Bangsa Arab adalah bangsa yang paling utama dan hikmah yang mereka ajarkan adalah hikmah yang paling mulia.”

Berkat pengetahuan yang luas itu, Quraisy telah berhasil membebaskan dari kebodohan-kebodohan baduisme. Mereka tidak lagi hidup nomaden dengan memelihara unta dan menggembalakan ternak. Mereka mulai hidup menetap dan mengatur perjalanan dagang dengan mengirim kafilah-kafilah ke berbagai penjuru negeri untuk berniaga.

Di samping sangat piawai dalam berdagang, kebudayaan Quraisy juga terhitung sangat luar biasa. Bukti yang paling nyata dari itu adalah berkembangnya syair-syair indah yang menjadi potret kehidupan mereka. Syair mereka sangat berbeda dengan syair yang berkembang di kalangan bangsa Semit yang tinggal di utara, baik dari segi isi maupun susunan katanya. Kebanyakan, syair mereka mengisahkan kehidupan sehari-hari. Mereka memuji-muji keragaman hidup dalam bentuk puisi yang imajinatif. Disebutkan juga dalam syair-syair itu, petuah-petuah dan hikmah-hikmah kehidupan yang sangat dalam dan ide-ide yang cemerlang.

Saking kuatnya pengaruh syair dalam kehidupan mereka, hingga rima tidak hanya mereka tuangkan dalam syair. Bahkan dalam ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan perkara agama, pernyataan-pernyataan penting, dan ungkapan-ungkapan bebas, seperti ramalan yang disampaikan para peramal dan hikmah yang disampaikan para ahli hikmah, semuanya berima.

Semua tradisi dan budaya ini membekas dalam jiwa anak-anak Quraisy. Sehingga mereka menjadi generasi penerus yang memiliki sifat mulia dan kecakapan yang luar biasa. Kedudukan kaum Quraisy terus meningkat di Jazirah Arab dan negara-negara maju saat itu. Mereka adalah bangsa yang dihormati dan dihargai karena keturunan mereka yang mulia, kecerdasan berpikir, dan juga karena mereka adalah pengurus Ka’bah dan penjaganya. Pamor mereka semakin hebat setelah mengalahkan Abrahah yang memerangi Mekah dan hendak menhancurkan Ka’bah. Setelah itu, pamor Abdul Muthalib dan suku Quraisy di mata dunia saat itu benar-benar meningkat.

Sejarawan Jerman, Wellhausen, menyatakan bahwa sebenarnya superioritas orang-orang Quraisy di Jazirah Arab adalah akibat dari kejayaan Mekah dan Hijaz. Tetapi, kebangkitan peradaban Mekah sendiri adalah pengaruh dari hubungan-hubungan baik Quraisy dengan bangsa Semit di utara. Wellhausen menambahkan, meski mereka kurang dalam urusan ketatanegaraan, tetapi mereka unggul dalam hal gotong-royong. Mereka memiliki pandangan yang jauh ke depan dalam perkara-perkara yang menyangkut kemaslahatan umum. Bahkan, tidak ada yang menandingi mereka dalam urusan ini di seluruh kawasan Arab lainnya.

Hal yang paling menarik adalah fakta bahwa Quraisy adalah pemerintahan kecil dari kumpulan keluarga besar suku-suku di Arab. Namun, sebagai kumpulan suku-suku mereka tidak mengedepankan kepentingan kabilahnya sendiri. Mereka tetap menjadikan kepentingan  Mekah  di atas segalanya. Bahkan, mereka mengangkat pemimpin bukan untuk mengatur kabilah, tapi untuk mengatur Mekah secara keseluruhan. Dan, ini adalah suatu yang baru di Jazirah Arab, khususnya di kota Mekah yang sempit itu.

SUMBER:SEJARAH KABAH/Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *