Artikel

ISLAM YANG DAMAI

Mayoritas umat Islam terlahir dalam perumahan Islam, artinya ibu-bapaknya sudah menganut Islam. Oleh karena mereka terlahir dalam perumahan Islam, maka ada sebagian umat tidak merasa perlu untuk mendalami Islam itu, karena menganggap sudah berada di dalam rumah. Berbeda halnya orang yang berasal dari luar Islam, mereka merasa perlu mengetahui lebih dahulu secara mendalam, apa itu islam, kemudian mereka memeluknya.

Sebagian besar orang Islam kalau ditanya apa itu Islam, mereka hanya menunjukkan bahwa orang Islam itu adalah mereka yang sholat, puasa pada bulan Ramadhan, naik haji, dan seterusnya, itulah orang Islam. Jawaban ini benar, tetapi terlalu minim dan tidak menyentuh asas yang sesungguhnya. Ia hanya menyentuh bagian luar makna Islam itu.

Agama, kalau digali secara mendalam, sebenarnya akar katanya ada dalam Islam itu sendiri. Rasulullah Saw. bersabda:

“Shalat itu tiangnya agama, barang siapa yang tetap mengerjakan sholat, maka dia tetap

(aqama) dalam agama (Islam), dan barang siapa yang mengabaikan atau meninggalkan

sholat, maka dia (telah) meruntuhkan agama (Islam),” (HR Ahmad bin Hanbal).

 

Di dalam hadis di atas terdapat kata “aqama” yang berarti “tetap”. Kata tersebut berasal dari bahasa orang Hadramaut, sebelah Selatan Jazirah Arabiah, yang membawa ajaran Islam ke Indonesia. Dialek bahasa orang Hadramaut, kalau membaca huruf “qa” dibaca “gâ”. Misalnya kata “aqama” dibaca menjadi “agama”.

Jadi makna sebenarnya agama adalah ‘menetap’. Contohnya, warga negara asing yang tiinggal di Arab Saudi, tidak mudah mendapat kewarganegaraan, walaupun berpuluh-puluh tahun tinggal di sana. Ia hanya mendapat keterangan yang disebut “igama”, artinya keterangan izin  untuk menetap, bukan sebagai warga negara. Kata “igama” tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sudah menjadi ejaan yang disempurnakan, dengan perubahan tulisan “agama”. Orang Malaysia menyebut “igama” atau “ugama”, sebagai jabatan atau hal ihwal.

Dengan demikian, arti sebenarnya agama Islam adalah ‘menetap dia dalam Islam’. Kalau orang islam mengenal dan melaksanakan ajaran agama Islam hanya dua kali setahun (sholat Idul Fitri dan Idul Adha), atau pada waktu dikhitan saja, atau pada saat dinikahkan saja, atau pada waktu tutup usia saja, berarti belum menetap kepada agama yang mereka anut dan yakini. Oleh karena itu, yang dituntut dalam ajaran Islam sebagai orang yang beriman adalah menetap, konsisten, atau Istiqamah (tetap pada prinsip). Artinya agama itu betul-betul menjadi bagian dari perilaku kehidupan mereka.

Dalam Islam, umatnya dituntut untuk mengimplementasikan ajaran Islam itu, tidak hanya di musholla atau di masjid, tetapi juga di kantor atau di tempat aktivitas keduniaan lainnya. Jadi pengertian agama adalah upaya pada penganutnya untuk menetap dalam segala hal, tempat, dan keadaan dan selalu terkendali oleh ajaran agamanya.

Kemudian, apa itu Islam? Islam berasal dari bahasa Arab, pangkalnya dari satu akar kata, yaitu “salam”. Kata “salâm” merupakan satu kata kunci dalam ajaran Islam, karena ia merupakan salah satu nama agung dari Asma’ al-Husna (nama-nama Allah Swt). Dalam Al-Quran disebutkan “Allahul ladzi lâilâha illa Huwa al-maliku al-quddus al-salâmu’minu al-muhayminu,” (QS Al-Hasyr [59]: 23). Jadi kata “al-salâm” merupakan salah satu nama agung dari Allah Swt. Selain itu, “al-salâm” juga merupakan kata kunci dalam sholat. Ia diucapkan berulang kali; sepertu ketika duduk “tahiyat” itu diulang dua kali kata “salâm.” Pada penutup sholat, ketika berpaling ke kanan dan ke kiri diucapkan: “Assalâmu’ alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Oleh sebab itu, salah satu kata kunci dalam ajaran agama dan dalam kehidupan bermasyarakat adah ketika berjumpa dengan yang lain dianjurkan mengucapkan salam, untuk saling mengingatkan kembali apa sebenarnya Islam itu. Ikatan hubungan antara manusia dalam Islam adalah salam.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik pengertian bahwa “salâm” mempunyai tiga muatan arti, yaitu keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan. Ketiga makna dasar ini, merupakan dambaan dan kepentingan seluruh umat manusia, bahkan seluruh makhluk, karena manusia berkepentingan untuk menikmati keselamatan lahiriah, artinya tidak cacat fisik, tidak sakit, tidak terancam bahaya, dan sebagainya. Itulah yang dinamakan selamat dan semua orang berkepentingan untuk mencapai keselamatan itu, demikian pula kedamaian dan kesejahteraan itu merupakan kepentingan seluruh manusia.

Dewasa ini perdamaian dunia merupakan kepentingan umat manusia secara global. Sebagai sebuah bangsa kita dituntut untuk ikut menciptakan perdamaian dunia. Namun harus didasari, bahwa titik awal perdamaian itu ada pada lingkungan yang paling kecil, yakni rumah tangga. Jika perdamaian dapat terwujud dan diraih dalam lingkungan rumah tangga, maka mudah diduga perdamaian dalam lingkup lebih luas, yang menyangkut kepentingan umat manusia akan mudah pula diraih. Hal ini merupakan hakikat ajaran Islam yang terkandung dalam pengertian “salâm” di atas.

Islam dapat pula bermakna kesejahteraan. Islam adalah agama yang menghendaki umatnya dan umat manusia secara keseluruhan, berada dalam keadaan sejahtera. Oleh sebab itu, ada beberapa kata dalam Al-Quran yang menggambarkan kesejahteraan, diantaranya adalah “al-khayr” (kebiasaan), “al-bir” (kebaktian, pemberian santunan) dan “hasanah” (kebaikan). Ini menjadi doa setiap selesai sholat, yaitu “Rabbanâ âtinâ fi al-dunyâ hasanah wa fi al-âkhirati hasanah waqina ‘adzâb al-nâr”. Kesemuanya itu menggambarkan suatu kesejahteraan, karena kata “hasanah”, mengandung pengertian segala macam kesejahteraan. Kalimat “al-dunya hasanah wa fi  al-âkhirati hasanah” itu merupakan konsep yang lengkap dalam ajaran Islam, yakni mencakup kesejahteraan di dunia dan di alam “baqa” (akhirat).

Dalam cakrawala lebih luas, “hasanah fi al-dunya dan hasanah fi al-akhirah”, itu menyangkut semua kesejahteraan manusia, baik kesehatan, kemakmuran, kekayaan, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, famous, dan sebagainya. Kesemuanya itu tidak dilarang oleh agama, karena sifatnya manusiawi yang cenderung selalu ingin mendapatkan yang lebih baik. Contohnya si A sudah punya sepasang pakaian yang sederhana, tetapi masih menginginkan yang lebih baik. Namun, hal yang perlu diingat, bahwa untuk mencapai yang diinginkan itu diperlukan suatu cara yang lebih baik, elegan, santun, wajar, dan benar.

Dalam Al-Quran diceritakan mengenai kekuasaan yang menggambarkan, bahwa setiap manusia menghendaki kekuasaan. Paling tidak kekuasaan dalam rumah tangga, yaitu bisa mengatur rumah tangganya dan anak-anaknya dengan baik. Allah Swt berfirman:

“…Allah Swt. menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian (manusia),

siapa di antara kalian yang terbaik amalnya,” (QS Al-Mulk [67]: 2)

 

Ayat ini merangsang umatnya, untuk mendapatkan yang terbaik di dunia ini, tetapi sekaligus yang terbaik di akhirat. Itulah yang merupakan keutuhan ajaran Islam dari kata “al-salâm”.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apa itu Islam? Islam berasal dari kata ‘salam’. Kemudian kata “salam” mendapat tambahan huruf ‘alif’ di depannya, menjadi “islam”. Kalau ‘sulam’ berarti keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan, maka ‘alif’ sebagai tambahan pada kata Islâm, itu mengubah maknanya menjadi suatu kata Islâm, itu mengubah maknanya menjadi suatu upaya meraih dan mewujudkan tiga hal tersebut, yakni keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian.

Pengertian Islam secara lebih luas (makro), dapat bermakna suatu upaya untuk meraih dan mewujudkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan dalam kehidupan umat manusia, baik individu maupun kolektif.

Dengan demikian, dalam diri Islam terkait  unsur upaya (ikhtiar). Kalau orang mengaku beragama islam saja, itu belum memenuhi makna tersebut, karena Islam artinya upaya meraih tiga hal itu. Di sini juga terkait bagaimana Islam itu memberikan kepercayaan kepada manusia berbeda dengan agama-agama lainnya.

Dalam ajaran agama lain dikatakan, bahwa untuk mencapai keselamatan manusia, maka dikirim juru selamat untuk menebus dosa-dosanya. Di sini terdapat perbedaan yang sangat prinsipil dengan Islam, karena keselamatan orang itu diserahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan untuk mengupayakannya sendiri. Islam memberikan kepercayaan kepada setiap manusia, untuk mencapai hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri dan tidak menyandarkan kepada orang lain. Nabi Muhammad Saw. bukan juru selamat, tetapi beliau diberi tugas untuk membawa petunjuk keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam ilustrasi lain, tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw. bagaikan pramugari yang bertugas memberikan petunjuk keselamatan, sebelum pesawat take off, bagaimana cara memasang tali kursi, pelampung, dan sebagainya. Begitu pula Nabi Muhammad Saw. Tidak menjamin umatnya selamat, tetapi memberikan petunjuk berupa wahyu. Kalau petunjuk tersebut dipercaya dan dilaksanakan dengan penuh ketaatan, maka umatnya dijamin akan selamat, sebaliknya jika tidak ditaati, maka tidak ada jaminan.

Jadi simpul pertama dan utama yang perlu dipegangi sebagai umat Islam yang taat, adalah menyakini bahwa Allah Swt. itu telah  memberikan suatu kehormatan atau kemerdekaan, berupa kemampuan untuk berupaya memperbaiki dirinya. Adapun bentuk konkret kelengkapannya adalah meliputi tiga hal, yaitu nafsu, akal pikiran, dan hati nurani.

Nafsu merupakan daya penggerak pada diri manusia, yang menggerakkan seluruh aktifitasnya melalui daya yang ada dalam tubuhnya, seperti bahan bakar pada kendaraan bermotor. Ada sebagian orang yang mendapatkan informasi kurang lengkap mengenai nafsu. Mereka memandang nafsu itu menjurus pada hal-hal yang negatif, padahal sesungguhnya tidak demikian. Nafsu itu sangat penting. Di Al-Quran Surat Al-Syams [91]: 7-8 disyaratkan bahwa dalam diri manusia terdapat banyak jenis nafsu. Ada seeibu satu macam nafsu, misalnya nafsu makan yang membuat orang bisa makan. Kalau kesehatan seseorang terganggu, berarti nafsu makannya turun atau terganggu pula. Ia membeli obat nafsu makan, supaya stabil kembali nafsu makannya. Nafsu makan itulah yang menjamin kelangsungan kehidupannya sebagai manusia.

Selain itu ada nafsu bicara. Semua orang yang mempunyai nafsu untuk bicara, dan itu bagian dari kehidupan manusia. Ada kalanya sebagian manusia tidak terkendali nafsu bicaranya, sehingga bicara sembarangan. Ada lagi nafsu mendengar. Telinga ini merupakan alat untuk mendengarkan segala macam berita atau kabar. Namun nafsu mendengar ini juga sering dipergunakan kepada hal-hal yang negatif, yaitu nguping-nguping segala celaan orang atau kejelekan orang lain.

Di zaman modern ada lagi nafsu yang juga cenderung jelek dan berbahaya, yaitu nafsu belanja (konsumtif). Nafsu jenis ini, ingin membeli segala macam apa yang enak dipandang panca indera manusia. Nafsu ini berbahaya, kalau tidak didasari pertimbangan keagamaan. Dalam Islam, tata cara berbelanja sudah diatur yang dinamakan infak (belanja).

Berdasarkan penjelasan di atas, telah dikenal sebagian kecil dari berbagai macam nafsu dalam diri manusia yang memotivasi untuk melakukan dinamika aktivitas kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, tidak ada ajaran untuk mengurangi nafsu, apalagi untuk mematikan nafsu itu. Berbeda dengan agama lain yang mengajarkan, bahwa kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih, apabila orang mampu mematikan nafsunya sehingga dia mampu mencapai tingkat tertinggi dalam dirinya yang disebut ‘nirwana’.

Islam tidak mengajarkan untuk mengajarkan untuk mengurangi atau mematikan nafsu itu, melainkan memberi petunjuk bagaimana menjinakkan nafsu. Adapun alat pengendali nafsu manusia itu, disebut akal pikiran (rasio), sebagai komponen kedua dalam tubuh manusia. Dalam QS Al-Fajr [98]: 27 diungkapkan : “Al-nafsu sl-muthma’innah” (nafsu yang stabil atau terkendali). Nafsu ini dapat menjadi tenaga besar yang bisa diatur sasarannya menjadi nafsu yang positif dan bermanfaat, menyelamatkan serta membahagiakan. Jadi alangkah bahagia dan beruntungnya manusia yang mampu menjinakkan nafsunya.

Dalam QS Al-Syams [9]: 10 disebutkan bahwa sungguh rugilah orang yang membiarkan nafsunya itu liar atau tak terkendali. Ringkasnya, akal pikiran itu sangat penting perannya dalam pengendalian atau penjinakan nafsu manusia. Dalam Al-Quran, banyak pot[1]ongan atau akhiran ayat berbicara mengenai akal pikiran, misalnya afalâ ta’qilun, afalâ tatafakkarun, afalâ tatadabbarun, la’allahum yatafakkarun.” Ayat-ayat tersebut memotivasi manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya dengan menfungsikan akal pikirannya.

Kemudian potensi ketiga dalam diri manusia yang sangat bermanfaat adalah hati nurani (qalbu). Hati nurani ini memiliki kesadaran tinggi yang menampung cahaya hidayah Tuhan, berupa petunjuk murni dari Tuhan. Di dalam kalbu, terkandung segala macam perasaan yang halus yang tempatnya berada di lubuk jiwa manusia.

Namun demikian, dalam kehidupan modern di tengah-tengah kerumitan manusia menghadapi berbagai jenis permasalahan hidupnya, yang didominasi oleh suara deru pesawat, mesin, pabrik dan lain-lain, seakan-akan tidak ada kesempatan untuk mendengarkan suara hati nuraninya yang berbisik dengan halus, yang memberikan petunjuk dalam kehidupannya.

Islam sebagai agama wahyu, sangat menitikberatkan pada upaya pengasahan dan pembinaan kalbu, karena kalbu ini ketika manusia mampu memfungsikannya dengan baik, maka  dengan hidayah Allah, manusia dapat menemukan dan melihat segala bentuk kelemahannya. Sedangkan akal pikirannya dapat dibina dan dikembangkan melalui proses belajar, kursus, bergaul, melakukan eksperimen, dan sebagainya. Karena dalam fakta sosial, tingkah laku manusia itu banyak dikendalikan ileh nafsu jeleknya. Sedikit manusia yang mampu menjinakkan nafsu dan juga kalbunya termasuk memakai akal pikirannya.

Apabila manusia telah mampu mengendalikan nafsunya, memakai akal pikirannya dan mendengarkan kalbunya, maka manusia seperti ini diberi gelar oleh Allah Swt. sebagai manusia yang sempurna, yaitu manusia yang berhak mengemban amanah Allah Swt. sebagai khalifah. Kedudukan manusia sebagai khilafah untuk mengolah dan memanfaatkan isi alam ini, demi kehidupan dan kesejahteraannya. Di sinilah terdapat perbedaan posisi manusia dengan makhluk lain, misalnya kerbau dari dahulu hingga sekarang, makanannya hanya rumput, sedangkan manusia, hari ini makan roti, siang atau besok bebas memilih makanan yang jenisnya berbeda, karena manusia memiliki kemampuan untuk mengolahnya.

Dalam proses pengolahan satu potong roti yang dimakan pada waktu pagi, melalui mata rantai sekian banyak, mulai dari petani yang menanam gandum sampai ke pabrik, tukang masak dan penyaji hingga kepada konsumen sebagai pembeli. Di sinilah diperlukan akal pikiran sebagai gambaran kekhalifahan manusia di bumi yang mampu menyelamatkan dirinya, mampu mewujudkan kedamaian dalam lingkungannya, dan menikmati kesejahteraan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.

Dengan demikian, Islam adalah upaya meraih dan mewujudkan hal-hal yang menjadi kepentingan hidup manusia itu sendiri, yaitu keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.

 

 

[1] Yafie, Ali. 2002. Beragama Secara Praktis. Penerbit Hikmah. Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *